[Book Review] Ranah 3 Warna

Image

Memiliki cita rasa yang sama dengan sekuel pertamanya Negeri 5 Menara, demikian halnya dengan buku kedua Ahmad Fuadi yang berjudul Ranah 3 Warna. 3 Warna yang diterjemahkan penulis dalam melewati fase 3 ranah dalam hidupnya. Fase perjuangan dan penderitaan bertubi-tubi selama menjadi mahasiswa yang tiba-tiba yatim, biaya-biaya hidup yang tak tertanggungkan, sehingga memaksanya bekerja pagi siang malam sampai akhirnya dirampok habis-habisan oleh preman kampung tak tahu belas kasihan. Kala itu, Alif sang pemeran utama, mulai mempertanyakan mengapa mantra Man jadda wajadda “Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan sukses” tidak manjur untuk menghadapi nestapa hidup yang bukannya makin surut malah makin membanjir. Di titik itulah Alif ditakdirkan menemukan secarik kertas lusuh dalam dompetnya, yang berisi petuah dari Kiai Rais mantan guru Pondok Madani tempat sekolahnya dulu. Ada yang terlupa olehnya: Man shabara zhafira.

Fase ranah warna kedua muncul kemudian ketika Alif secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang perempuan yang sedang tertawa terkikik melihat foto di satu sudut tempat duduk bis yang pengap penumpang. Ketika itulah mimpinya menjejakkan kaki ke Amerika bangkit kembali kala mendengar ada beasiswa pertukaran pelajar di Amerika. Bara semangatnya hanya tertuju pada satu tujuan : memenangkan beasiswa pertukaran pelajar ke Kanada. Kali ini, tidak hanya merapal mantra Man Jadda Wajadda namun juga Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar maka dia yang beruntung). Singkat cerita, setelah melewati berbagai ujian dan tes wawancara, kali ini mantra-nya mujarab minta ampun. Alif berhasil menggenggam tiket ke Kanada. Bonusnya, Alif transit di Yordania, tanah penuh sejarah peradapan Islam. Disinilahnya manisnya ranah warna kedua terasa sangat lezat, meski Alif nyaris kehilangan nyawa karena hampir jatuh ke jurang ketika menolong salah seorang temannya.

Ranah ketiga puncak dari semua kesungguhan, kerja keras dan kesabaran Alif. Alif seolah menggenggam mimpi dari langit, sepatu hitam dari almarhum ayahnya menginjakkan kaki di antara dedauan maple yang berguguran kala musim gugur di Kanada. Mendapatkan teman Kanada yang baik, orang tua setengah baya yang penuh kasih, magang di stasiun TV lokal, berhasil mewawancarai salah seorang tokoh nomor satu referendum di Kanada hingga ditayang berulang-ulang di stasiun TV lokal sampai akhirnya memenangkan medali emas program pertukaran pelajar di Quebec, Kanada. Satu pesan moral yang kentara di ranah ini, bahwa Tuhan Sungguh Maha Mendengar walau baru doa dalam hati.

Akhir novel ini ditutup dengan sangat apik dan sempurna dari penulis dengan merangkai rajutan antara 3 ranah warna yang telah ia lalui, mungkin untuk memastikan para pembaca agar tidak salah mengambil sketsa hikmah dari keseluruhan cerita. Pelajaran hidup yang hanya diajarkan oleh pengalaman yang ditakdirkan oleh Tuhan. Manis sekali, seperti dibawah ini.

” Hidupku selama ini membuat aku insaf untuk menjinakkan badai hidup, “mantra” man jadda wajada saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.
Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa dan sabar yang berlebih-lebih.
Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilih yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah Hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.
Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan Alhamdulillah, aku sudah mereguk madu itu. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung. “

(Dikutip dari novel Ranah 3 Warna, karya A. Fuadi, Januari 2011, Hal. 468-469)

Untuk para penggemar novel dengan tag encouragement, tidaklah baik untuk melewatkan bacaan satu ini.   Jadi selamat membaca ya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s