[Book Review] Humaira: Ibunda Kaum Beriman

Buku setebal 616 karya Kamran Pasha meninggalkan segenap rasa. Bagai coklat belgia, kelezatannya, membuat saya tidak ingin berhenti menikmatinya sampai gigitan terakhir. Memaksa mata dan otak bekerja lebih lama pada  beberapa malam di hari kerja. Hasilnya, rasa puas dengan bonus kepala pening minta ampun. Sepadan!!

Cerita mengalir sangat bagus dan kompleks namun sederhana. Bermula dari Aisyah kecil yang gemar bermain dengan teman laki-laki ketimbang perempuan, gesit berlari, pandai membaca kemelut perasaan orang tua-nya, berani berpendapat dan kuat hati melihat beberapa kenyataan pahit seputar masa-masa ke-Rasul-an Rasulullah di Mekkah. Aisyah, walaupun berada di dalam raga anak kecil namun perasaan dan pikirannya lebih daripada itu.

Aisyah adalah anak yang sangat berbakti dengan ayahnya Abu Bakar RA. Kemana pun dan apa pun yang diperintahkan oleh ayahnya, jarang sekali ia menolaknya, kalaupun menolak, biasanya akan berujung pada penyesalan. Aisyah kecil yang ceria, berani dan pandai membaca situasi pada masa-masa sulit dakwah Rasulullah, juga tidak mengerti mengapa pada akhir hayat Khadijah membisikkan khusus padanya untuk kelak menjadi pendamping Rasulullah. Walaupun pernikahan itu akhirnya terjadi lama setelah Khadijah meninggal dunia. Ini adalah perjodohan langsung dari langit. Tidak ada seorang pun, tidak sedetik mustahil terbersit, kelak akan menjodohkan seorang Rasul dengan seorang anak perempuan kecil berpipi merah, Aisyah. Namun, kukuhnya keimanan dan keyakinan membuat perjodohan langit itu diterima dengan keikhlasan hati semua pihak. Sang khalifah, sahabat Rasulullah, anak-anak Rasulullah, kerabat Rasulullah dan Orang tua Aisyah yang juga sahabat Rasulullah, Abu bakar As Shidiq, Ayah yang sangat mencintai anak perempuannya dengan penuh welas asih, walau sempat galau namun akhirnya keimanan itu harus tetap dikukuhkan dengan keyakinan bahwa ALLAH Maha Mencintai hamba-Nya. Aisyah, seperti halnya Nabi Ismail pada Nabi Ibrahim, mematuhi dengan sepenuh jiwa perjodohan langit ini. Tawakal.

Di masa pernikahannya dengan Rasulullah, Aisyah, tetap menjadi gadis kecil yang menggemaskan namun perlahan tapi pasti menjadi seorang Ibunda kaum Muslimin dengan kematangan yang sempurna. Rasulullah, seorang suami yang penuh kasih sayang pada Aisyah, sesekali berlomba lari dengan Aisyah dan tidak menyetubuhi Aisyah sampai pada saatnya secara ragawi dan rohani telah siap. Rasulullah dan Aisyah, pasangan yang saling mencintai benar-benar karena ALLAH.

Walau bagaimanapun, Aisyah tetaplah perempuan dengan sejuta perasaannya. Aisyah juga disisipi rasa cemburu bukan kepalang ketika Rasulullah menikahi perempuan lain. Istri Rasulullah setelah Aisyah ialah Saudah. Seorang janda tua yang membutuhkan suami untuk melindunginya. Suaminya mati syahid. Rasulullah pun menikahi perempuan berikutnya karena alasan politik. Perlu diketahui, pada masa itu, satu-satunya cara untuk menyatukan kabilah-kabilah di Mekkah ialah dengan menikahi salah seorang anak perempuan dari pemuka kaum-nya. Dalam perjalanannya, Rasulullah pun menikahi beberapa perempuan dan Aisyah, juga seorang perempuan biasa, menanyakan takdir Allah untuknya, yang harus seringkali menangis melihat suami yang disayanginya menikah kembali.

Aisyah, istri kesayangan Rasulullah, yang dianugerahi ingatan sangat tajam, bahkan semua kenangan masa kecilnya, melekat kuat di otaknya. Seringkali, Aisyah menemani Rasulullah ketika berperang melawan orang kafir. Walaupun memiliki rasa cemburu, tapi ia kerap membantu istri-istri Rasulullah di saat-saat genting. Di saat Rasulullah membutuhkan dukungan dari para istrinya, Aisyah selalu menjadi sosok pemimpin yang menyembul diantara istri-istrinya yang lain. Walau cemburu, Aisyah, tidak pernah sekalipun, memusuhi atau melihat istri-istri yang lain sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Dan Rasulullah, walaupun sangat mencintai istrinya Aisyah, selalu berusaha keras untuk bersikap adil dengan istri-istri lainnya, terutama berdisiplin mematuhi jadwal tinggal di rumah masing-masing istri. Menikah lagi, bukanlah keinginan ragawi dan nafsu Rasulullah, namun lebih kepada keadaan, takdir dan pengorbanan kepada Tuhan.

Aisyah kerap menyemangati dan menghibur Rasulullah ketika masa-masa sulit penegakan Islam di Mekah sampai akhirnya hijrah ke Madinah. Pada akhir hayatnya, Rasulullah meninggal di pangkuan Aisyah dengan pengorbanan Saudah. yah, hari itu Saudah mengizinkan Rasulullah pergi ke rumah Aisyah walaupun sebenarnya hari itu adalah jatah tinggal di rumah Saudah. Cinta yang begitu mempesona dari Saudah sangat terlihat disini.

Sepeninggal Rasulullah, Aisyah pun dirudung duka begitu dalam. Namun, akhirnya dia bangkit dan membangun meneruskan perjuangan Rasulullah memperluas wilayah Islam. Aisyah pernah menjadi seorang panglima perang, Aisyah menjadi perawi hadist handal karena kekuatan ingatannya, Aisyah menjadi penasehat pemerintahan pada masa khulafur rasyidin. Namun, Aisyah tetap perempuan dengan sejuta perasaannya. Dia sangat rindu Rasulullah, suami yang sangat dicintainya.

Pada akhir hayatnya, Aisyah meninggal sebagai perawi hadist yang mengajarkan ilmu pada banyak kaum muslimin. Sakratul maut-nya hanya menyisakan perih di raga yang sakit namun sesungguhnya ruh-nya telah bebas, ia sedih meninggalkan umat yang mulai saling membunuh satu sama lain, namun ia bahagia karena akan bersatu kembali dengan separuh jiwanya, Rasulullah SAW. Humaira, tetaplah perempuan dengan sejuta perasaannya, dia teramat sangat mencintai suaminya sampai di akherat. Pada akhirnya, Aisyah tidak pernah menyesal sedetik pun perjodohan langit ini, terlebih dia sangat bahagia dengan baktinya kepada Rasulullah.

Tokoh sentral, sang Humaira, memang sangat hidup di dalam novel ini. Sisi manusia dari seorang Aisyah disajikan sangat humanis. Selain itu, novel ini juga sangat kuat dari sisi perjalanan sejarah peradaan Islam, bermula dari masa awal yang sangat sulit, masa keemasan yang sangat berkilau sampai akhirnya harus terkapar kembali menjadi umat yang terpecah belah karena nafsu duniawi. Tokoh-tokoh lain juga sangat hidup dengan sisi manusiawi-nya, pun dengan detail latar belakang sejarahnya. Banyak sekali sejarah peradapan Islam yang terkuak sangat apik sekaligus dalam, namun tidak terkesan berat untuk dimengerti. Pembuatan novel yang sangat detail alur cerita sejarah ini, membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam prosesnya. Butuh puluhan literature untuk mendukung cerita yang ada. Walaupun novel ini tergolong fiksi namun sedikit banyak cerita sejarahnya termasuk non fiksi.

Sehingga, tidaklah berlebihan, kalau novel dan penulisnya sangat pantas diganjar level Excellent dan highly recommended.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s