Episode Pengabdian

Di dalam beragamnya pelajaran hidup di dalam kehidupan banyak orang, saya menemukan harta yang tak ternilai harganya. Harta yang diberikan secara cuma-cuma oleh para guru kehidupan yang saya temui di dalam setiap penelitian, selamanya akan berkilau dan melekat disini, di dalam otak dan hati. Sudah saya tekadkan, kelak potret pengabdian itu akan saya tuliskan. Sayangnya, saya lupa nama sang guru itu, namun sepenuhnya saya yakin, suatu saat jika ALLAH memperkenankan saya kembali bertemu dengannya, tidak akan terlupakan raut wajah penuh pengabdian itu. 

 
Saya tidak pernah mengira, pengalaman singkat bertahun yang lalu, ternyata masih terus berada didalam ingatan dengan keadaan sungguh rapi. Pagi itu, berdua dengan sahabat saya, kami akan mengikuti kegiatan salah seorang bidan yang tinggal di salah satu desa terpencil di kabupaten Pandeglang, Ciodeng nama desanya. Bidan akan melakukan posyandu di salah satu kampung terjauh, perjalanan akan ditempuh kurang lebih selama 1.5 jam penuh, dengan menggunakan motor. Bidan dibonceng dengan seorang bapak petugas puskesmas, sementara kami berdua dibonceng dengan tukang ojeg kampung. Mulanya, kami tidak percaya dengan ongkos ojeg yang ditawarkan, 75 ribu rupiah per ojeg. Mahal sekali, apalagi ini di desa bukan di kota. Nyatanya, setelah melalui proses tawar menawar, jumlah ongkos pun tidak bergeser kearah pengurangan sedikit pun. “masak sini sudah naik situ gak mau turun” kata pamungkas paling manjur dalam kamus penawaran saya pun sudah termuntahkan, namun seperti kali ini tidak berhasil. Kata sepakat pun berupa “ya sudah, dilihat dulu, itu memang jauh neng, beneran saya tidak bohong”. Lucu juga bila diingat. Maklum, saya dan sahabat saya adalah tipe orang yang tidak akan puas jika belum sampai pada kesepakatan penawaran termurah. yah, kami berdua akhirnya luluh, walaupun masih ada segurat penasaran, “masak iya sih sejauh itu dan semahal itu, moga-moga nanti bisa kurang”. Ah, begitulah kami … 
 
Kami semua segera bersiap dengan segala peralatan yang ada, mulai dari memakai sepatu boot, helm besar, tas ransel, dan kamera. Iring-iringan motor yang terdiri dari bidan dengan bapak petugas puskesmas, saya dan sahabat dengan tukang ojeg masing-masing. Kami melaju melintasi jalanan desa yang masih beraspal lalu kemudian masuk ke dalam hutan kelapa sawit dan rintik hujan pun mulai turun. Remang sekali kala itu didalam hutan, tukang ojeg kami memberikan jas hujan walau masih berada diatas laju motor. Hujan semakin lebat, membuat saya tidak ada pilihan kecuali mulai memakai jas hujan yang diberikan, walaupun sejujurnya harus menahan nafas, karena aroma jas hujan bekas banyak orang perlahan menusuk hidung. Saya masih melihat laju motor bidan dan petugas puskemas berkelebat layaknya kijang melintasi hutan kelapa sawit yang kini telah basah oleh hujan. Lama sekali sampai akhirnya saya melihat titik terang matahari di ujung pelupuk mata. Jalanan hutan yang masih berupa tanah dan batu-batuan kasar, telah cukup mampu membuat pinggang mulai terasa pegal. Terang itu, mungkin tanda posyandu telah dekat, dan ternyata saya salah. 
 
Terang matahari memang sudah menyambut, rasanya seperti baru saja keluar dari gua. Jalanan yang terhampar di depan sudah berupa jalanan aspal kembali, saya sempat melihat kelebatan papan nama besar yang bertuliskan “Perumahan Pegawai Pengolahan Hutan Karet”. Aroma karet yang dididihkan dan diolah menyeruak ke permukaan bercampur dengan bau hujan yang masih baru. Namun, laju motor ini sepertinya belum mau menunjukkan bahwa tempat tujuan telah dekat, bahkan lebih dari itu, lajunya yang kian cepat, memberikan sinyal bahwa perjalanan masih sangat panjang. Baju telah basah, kerudung telah kuyup, dan mata mulai perih remang memandang ke depan. Motor bidan terus saja lincah bergeliat di depan. Berkelok-kelok, sampai pada akhirnya saya melihat lekukan jalan pegunungan di depan. 
 

Rupanya, kondisi jalan yang harus dilalui, bukan semakin mulus, malah sebaliknya, semakin tidak beradab. Kali ini dengan topografi pengunungan, jalanan meliuk curam keatas dan menerjal ke bawah. Tanah merah bercampur dengan batu-batu besar dan tajam, hujan yang baru lewat, menyempurnakan kondisi jalan yang menghadang di depan, tanah gembur dan batu-batu besar itu menyembulkan kilau, mungkin jika ada kucing yang berjalan diatas batuan bisa terpeleset saking licinnya. Di kiri kanan jalan, terhampar pohon-pohon kelapa sawit yang masih sangat muda, masih pendek dan sekilas terlihat seperti perkebunan teh. Beberapa kali, motor kami terpeleset, nyaris jatuh, gurat kesungguhan para tukang ojeg yang membawa kami sungguh terlihat, urat-urat tangan dan kakinya seketika menyembul, ketika kami harus menanjak dan turun ke bawah. Kadangkala, kami terpaksa harus jalan kaki, jika jalanan terlalu gembur dan terputus oleh aliran air deras yang melintas di depan. Akhirnya saya paham, mengapa bidan menyuruh memakai sepatu boot. Sepatu boot memang cocok sekali dengan kondisi jalan tidak manusiawi seperti ini. Diatas pegunungan, terik matahari langsung menyengat diatas kepala. Peluh keringat dan bau lembab basah akibat hujan bercampur jadi satu. Jantung saya berkali-kali berdesir cepat, seperti rasa lega yang seketika menyergap ketika bayangan kematian baru saja lewat. Mulut saya dan sahabat saya tiba-tiba membisu. Hanya pias harap dan doa dalam hati agar segera tiba di tempat posyandu. Aneh, bapak petugas puskesmas masih menyembulkan senyum dan raut mata teduh tanpa sedikit pun terdengar keluh kesah. Sementara saya, ada gerutu dalam hati,”ah, kenapa tidak ada asuransi untuk peneliti”. 
 

Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam-an, saya melihat sekumpulan rumah. Kali ini tidak salah, gemuruh saya dalam hati. Walau di depan kondisi jalan berlumpur dan basah, kaki kami yang terbenam dalam sepatu boot, tenggelam beberapa centi di dalam lumpur, langkah menjadi berat. Tidak apalah, sebentar lagi kami sampai. Bapak petugas puskesmas itu bergerak cepat ke depan, seolah-olah, jika ini perlombaan, maka dialah yang menjadi pemenang. Langkahnya semakin cepat dan mantap dengan membopong sepeda motor butut disampingnya. Kami sudah sampai di Posyandu, para ibu yang menggendong bayi dengan selendang usang panjang dan sepatu boot, menyambut dengan wajah gembira penuh arti. Alhamdulillah, hari ini anak saya dapat imunisasi. Begitu mungkin batinnya berkata. 
 
Bapak petugas puskesmas dengan sigap langsung menuju sebuah rumah reot berdinding bambu yang berada di area kelurahan kampung terpencil itu. Rumah itu milik salah seorang warga. Posyandu berlangsung di beranda rumahnya, disamping salah satu sudutnya, terdapat sebuah dipan kayu cukup lebar untuk diduduki oleh 2 orang. Rupanya, sudah banyak para ibu yang menunggu posyandu. Semenit kemudian, berlangsunglah kegiatan posyandu, para kader ada yang memanggil nama para ibu, menimbang dan mencatat berat badan bayi, dan terakhir bapak petugas puskemas menyuntikkan imunisasi pada para bayi, selain itu, bidan juga melakukan hal yang sama, sembari memeriksa kandungan para ibu hamil. Kegiatan posyandu berlangsung selama kurang lebih sejam. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa. Letih selama perjalanan menguap bersama dengan embun hujan yang tertelan terik matahari. 
 
Setelah semua selesai, kami semua diundang oleh istri pak lurah untuk makan siang di rumahnya, yang bersebelahan dengan kantor lurah. Kami, bidan, bapak petugas puskesmas dan tukang ojeg duduk melingkar di ruang tamu pak lurah yang sangat sederhana. Itu adalah makan siang ternikmat dan tidak terlupakan bagi saya. Sepiring nasi putih, semangkok sayur sop dan sesendok kumpulan ikan kecil sawah goreng. Nikmat sekali. Bahkan, sampai sekarang pun saya masih ingat rasa nikmatnya. Sembari menikmati makan siang, obrolan ringan berlangsung, yang dibahas adalah ketakjuban kemampuan kami semua melewati jalanan tidak beradab pagi itu. Diam-diam, saya bersyukur atas kondisi saya yang sehat wal afiat. 
 
Ternyata, makan siang bukanlah tanda bahwa kegiatan bidan telah berakhir, masih ada satu posyandu lagi yang harus didatangi. Kali ini, letaknya merasuk ke dalam kampung. Jangan dibayangkan bahwa kondisi jalan di kampung ini beraspal. Sama sekali tidak. Masih berlumpur walaupun saat itu sudah kering karena terik matahari dan masih berbatu dan berliku terjal turun naik. Hati yang baru saja lega, kembali bergemuruh cepat, wajah ceria karena telah kenyang berubah menjadi pias kembali, berharap kami bisa selamat seperti sebelumnya. Walau tidak selama sebelumnya, kami sampai di posyandu kedua yang berlangsung di dalam rumah salah seorang penduduk. Para ibu yang menunggu kali ini lebih banyak daripada sebelumnya. Wajah mereka sumringah menyambut bidan dan bapak petugas puskesmas. Lebih sumringah daripada sebelumnya. Kecemasan yang merayap berakhir bahagia di hati mereka. Satu per satu, Bidan dan bapak petugas puskesmas melayani para ibu. Saya ingat betul, senyum di wajah bapak petugas puskesmas tidak pernah hilang, bahkan sedari awal kita berangkat. Bapak petugas puskesmas melayani sepenuh hati seolah-olah raga-nya telah bersahabat dengan letih dan memiliki energi tanpa batas. Dari penampakan fisiknya, saya tahu usianya tidak lagi muda. 
 
Selesai dari kegiatan posyandu kedua, bidan yang dibonceng dengan bapak petugas puskesmas, rupanya belum juga menuju jalan pulang, melainkan motor berjalan menuju salah satu rumah penduduk di kampung tersebut. Agenda bidan selanjutnya ini bukan posyandu, melainkan menjenguk dan memeriksa ibu yang baru saja melahirkan. Saya tahu pasti, ibu itu senang sekali begitu mengetahui bidan datang menjenguknya. Walaupun sebenarnya, Ibu tersebut baru meminta bantuan bidan setelah sebelumnya dukun bayi yang menjadi penolong pertamanya pasrah karena tidak kunjung berhasil mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Sudahlah, potret ini sudah sangat lazim di berbagai pelosok desa di Indonesia. Bidan masih menjadi “ban serep” -nya dukun bayi. Di luar itu semua, potret kemanusiaan sejatinya tertangkap di dalam momen siang itu. 
 
Ketika matahari mulai meredakan panas sinarnya,memberikan sinyal pada alam bahwa siang akan berganti sore, kami semuanya kembali dengan iring-iringan motor menuju ke desa tempat kami berangkat pagi tadi. Pengalaman posyandu hari itu tidak pernah saya lupakan. Memang benar adanya, desa itu terletak sangat jauh dan mengandung perjalanan penuh resiko. Bahkan, terkadang, desa itu terisolasi dan tidak terjangkau, ketika hujan deras berlangsung lama, hingga membanjiri area di sekeliling desa. Hingga, wajarlah, mengapa para ibu di posyandu menunjukkan kebahagiaan tak terperi begitu mengetahui bidan dan bapak petugas puskesmas datang. Artinya, anak-anaknya masih mungkin untuk tumbuh sehat layaknya anak-anak lain di perkotaan. Bagi anaknya yang sakit, ada harapan bahwa anaknya kelak akan bertemu dengan kesembuhan dan kembali ceria, karena kehidupan mungkin tidak selalu menyajikan keceriaan. Bagi para ibu yang hamil, kecemasannya akan sedikit mengempis begitu merasakan tangan bidan memegang perutnya dan mengatakan bahwa kandungannya sehat. Mungkin pada pandangan sebagian orang, posyandu itu kecil artinya, tapi bagi mereka, posyandu adalah secercah sinar untuk kehidupan yang lebih baik. 
 
Banyak sekali manusia yang bekerja sedemikian keras dan mendapatkan imbalan ekonomi yang sepadan. Bahkan seringkali, ada banyak juga kita temui, manusia yang hanya duduk santai dan tidak pernah keluar keringat sedikitpun, memiliki imbalan gaji yang sangat besar, sampai melewati batas imajinasi saya mengenai jumlah gaji yang sepadan dengan pekerjaannya. Adalah normal dan jamak, jika orang bekerja keras dan mendapatkan banyak uang. Namun, nyatanya, saya tidak temukan itu pada tokoh utama yang saya ikuti hari itu. Sang bidan memang tidaklah besar gajinya dan saya sepakat, bahwa gajinya tidak sepadan dengan beban pekerjaannya. Pada akhirnya, selama perjalanan pulang, saya sudah berjanji dalam hati bahwa ongkos ojeg tidak akan saya tawar lagi, bahkan saya akan bayarkan lebih dari yang mereka tawarkan. Perjalanan ojeg yang mempertaruhkan nyawa kali ini layak untuk diganjar lebih dari 75 ribu rupiah. Teramat sangat layak dan wajar. 
 
Andaikan saya tidak pernah mendengar bahwa kadang beberapa kali motor butut puskesmas yang selalu dipakai untuk posyandu di daerah terpencil dengan kondisi jalan yang sangat tidak beradab, seringkali ban-nya pecah hingga bapak petugas puskesmas harus mendorong motor sampai ke desa tujuan. Andaikan saya tidak pernah tahu, bahwa ternyata status bapak petugas puskesmas hanya sebagai pegawai pembantu, hingga tidak mendapatkan gaji dari pemerintah melainkan dari gaji sukarela dari Puskesmas. Andaikan saya tidak pernah tahu, ternyata dalam sebulan, Ia hanya menerima gaji sebesar 100 ribu rupiah, sepadan dengan ongkos yang saya berikan kepada tukang ojeg pada satu hari itu. Andaikan saya tidak pernah mendengar bahwa seringkali dia harus berangkat sendirian melayani posyandu ke pelosok desa-desa lain yang jalanannya lebih parah lagi dari desa yang saya kunjungi. Bapak petugas puskesmas telah tahunan bekerja di puskesmas dan sadar sepenuhnya bahwa kesempatannya menjadi PNS adalah mustahil kecuali jika ada keajaiban. 
 

Mungkin kisah pertualangan ini tidak akan terendam sedemikian rinci di dalam memori ingatan saya. Mungkin juga, saya tidak akan ingat sedemikian jelas raut wajahnya sampai sekarang, walaupun saya lupa dengan namanya. Yah, sosok lelaki sederhana paruh baya itu ialah sang guru yang mengajarkan mengenai episode pengabdian. Pengabdiannya, di mata saya, memang tidak akan pernah sepadan dengan uang sebanyak apapun. Pengabdiannya pada kemanusiaan yang dibauri dengan keikhlasan pada Sang Khalik adalah wujud kesempurnaan seorang manusia sholeh dimata saya. Pengabdiannya hanya layak diganjar dengan surga-Nya kelak di Akherat. Hingga, bahkan sepeninggalnya pun kelak, masih memberikan keberkahaan hidup bagi keluarga dan keturunannya. 
 
” Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan …” (At-Taubah : 105)
 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s