Pergumulan Ilmu, Jiwa dan Kontemplasi


Andaikan waktu bisa diputar kembali, maka saat ini yang paling saya inginkan ialah kembali ke masa ketika sedang bergulat dengan skripsi. Masa itu, rasanya tiada hari tanpa gelora semangat dan jauh dari rasa letih. Waktu sebulan cukup untuk menyelesaikan skripsi dari mulai bab pendahuluan sampai dengan kesimpulan, termasuk di dalamnya pengambilan data dengan interview dan transkrip. Saat itu saya belum punya komputer sendiri, hingga, seringkali harus mengantri memakai komputer saudara hingga larut malam, atau tidak jarang juga, harus jauh pergi ke depok, hanya untuk bisa mengetik di rental komputer. Kadangkala, jika diingat kembali, rasanya sungguh luar biasa. Hanya ALLAH-lah yang mengizinkan semua itu terjadi. Alhamdulillah, nilai-nya pun sangat memuaskan. 
 
Waktu bergulir 6 tahun semenjak sidang skripsi berlalu. Saat ini, di waktu yang sama, kembali saya berhadapan dengan skripsi yang berganti nama dengan thesis. Sungguh sangat terasa bedanya. Bukan hanya pada bobotnya, namun juga pada raga dan jiwa-nya. Kemana dicarinya semangat seperti dulu ketika skripsi. Sungguh bingung. Sungguh penat. Sungguh menyebalkan jika harus terus bermandikan dengan keluh dan kesah. Ada saat gelora semangat meletup dan memanas sampai level didih tertinggi, namun, nyatanya, waktu bergulir, maka bergulir juga semangat itu. “Bosan saya dengan penat dan enyah saja kau pekat” begitulah kata cinta membacakan puisi rangga di film itu. 
 
Jika dulu harus mengantri menggunakan komputer, saat ini bahkan seringkali laptop saya harus begadang seorang diri semalaman tanpa disentuh keyboardnya sama sekali. Dibiarkan saja menyala. Jika dulu saya harus ke perpustakaan dan mencari sendiri judul skripsi yang akan menjadi bahan referensi saya, sekarang hanya tinggal duduk manis di depan laptop sambil menggunakan fasilitas jaringan kampus yang mampu mengakses jutaan jurnal internasional hanya dalam dalam waktu kurang dari 5 menit. Cepat, Kapan saja dan dimana saja. Nyatanya, segala fasilitas ini, belum cukup mampu membuat mahasiswa satu ini menyelesai tesis dalam tempo singkat. Lalu apa yang kurang ? Entahlah, sampai sekarang pun saya juga belum menemukan jawabannya. 
 
Saya sadar, pergumulan ilmu ini harus diakhiri dengan karya yang sebagus mungkin, sebaik yang kita bisa, Tapi, saya tidak akan menyerah. Selama waktu masih bergulir sampai saatnya nanti, saya akan tetap berada disini, memperbaiki kembali niat, memanaskan kembali semangat, mengenyahkan segala rasa penat dan pekat. Menikmati pergumulan pikiran, ilmu dan batin dari apa yang sudah saya lakukan, saya dapatkan dan saya renungkan. Episode belajar ini harus diselesaikan. Semoga ALLAH menjaga dan menolong umat Rasulullah SAW ini, dengan kemudahan dibalik kesulitan, tetap terjaga di dalam keridhoan dan keberkahan ilmu. Amin ya robbal alamin. 
 
Amsterdam, 24 Juli 2010, 5.32 pm 
 
Note: 17 Agustus 2010, di saat semua orang bersuka cita merayakan kemerdekaan RI, saya diwisuda!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s