[Book Review] Sepatu Dahlan

Buku novel biografi orang besar tanpa penulis yang cakap maka hanya sekedar menjadi buku pamer tanpa makna. Salah satu kunci sukses, juga terletak pada penulisnya yang handal, yang mampu menceritakan kisah turun naiknya perjuangan seseorang tanpa kesan menggurui, pamer penderitaan dan orisinal karakter orang  yang ditulis juga terasa disana, apa adanya, tanpa terlalu mendramatisir situasi, yang memang sudah dramatis.

” hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya” 

Begitulah tagline utama dari buku novel setebal 370 halaman ini. Sebagai seorang penulis, Khrisna Pabichara sangat lihai mengurai kemiskinan yang dilalui demikian getir, romantis dan antusias dari sosok Dahlan Iskan di masa kecilnya. Lahir dari keluarga miskin di sebuah kampung kecil yang hanya dihuni 6 buah rumah sederhana yang bernama kebon dalem, di Magetan, Jawa Tengah. Dahlan, anak yang baru saja lulus sekolah dasar, hanya punya satu mimpi masa itu, mimpi yang sampai menelusuk di malam-malam tidurnya, di khalayan siang harinya, bahkan menguat menjadi tekadnya, yaitu memiliki sepasang sepatu, titik.

Memiliki sepasang sepatu bagi anak ketiga dari 4 bersaudara, dengan  ayahnya yang bekerja sebagai buruh serabutan dan ibu seorang pembatik orderan, dan di masa tahun 60-an dimana harga-harga meningkat dan uang sulit didapat adalah suatu mimpi yang hampir mustahil untuk diwujudkan. Untuk makan sehari-hari saja sudah demikian sulit, apalagi untuk membeli sepatu.

Begitulah, Dahlan tetap menggenggam mimpinya, tapi juga tetap meneruskan ritme kehidupan ke depan. Walaupun harus menelan perih karena kedua kakinya harus terus berjalan tanpa alas kaki. nyeker lebih tepatnya. Dahlan ingin sekali masuk sekolah menengah pertama di Magetan, namun kemiskinan, membuatnya harus ikhlas masuk ke Pesantren. Siapa nyana, kehidupan di Pesantren, justru mempertemukan Dahlan dengan sahabat-sahabat terbaiknya. Dengan para sahabatnya itulah, Dahlan menjalani dinamika masa SMP dengan penuh keriangan dan apa adanya. Bersama dengan sahabatnya, Dahlan, belajar bahwa kemiskinan, ya, memang harus dijalani apa adanya, namun bukan bearti tanpa kebahagiaan. Persahabatan mereka begitu murni, jujur dan saling menguatkan satu dengan lainnya. Apalagi, ketika hati Dahlan begitu limbung karena harus kehilangan ibunya yang meninggal dan kakaknya yang pergi ke Kalimatan. Kehilangan bagi Dahlan, menyisakan keperihan begitu dalam.

Dahlan adalah anak yang pandai bermain voli dan menulis cerita. Permainan voli, yang menghantarkannya menjadi ketua tim voli dan sosok yang begitu dikagumi karena sikap patriotnya ketika melawan tim voli unggulan sekolah lain, dengan kaki yang berdarah-darah, hasil dari sepatu patungan pemberian teman-temannya yang kekecilan. Sikap patriot dan kemampuan voli yang bagus, membawanya menjadi pelatih tim voli salah satu pabrik gula di daerahnya. Hasil dari melatih voli, tidak saja memberinya sejumlah uang yang cukup untuk membeli sepasang sepatu untuknya, tapi juga untuk adiknya. Betapa bahagianya Dahlan ketika mimpi sudah digenggamnya, setelah melewati nestapa yang demikian panjang dan pilu.

Dahlan, juga anak yang sangat pandai menulis. Ia sangat gemar menulis sedih, gundah dan gembiranya dalam tulisan. Apalagi ketika Dahlan dirundung cinta pada Aisha, anak mandor Pabrik Gula yang sangat ditakutinya,  rasa yang menghasilkan tulisan yang demikian romantis, seperti ini:

” waktu itu aku juga merasa sangat mengenalmu. Aku yakin kita pasti sudah pernah bertemu, sangat yakin. Hanya saja aku lupa kapan dan dimana pertemuan itu terjadi. Barangkali di sajak-sajak penyair yang tak pernah selesai, atau di halaman belakang sebuah roman yang berakhir tak bahagia, atau dalam lirik-lirik lagu yang mendentingkan sunyi di telinga atau di alun nada musik semesta yang ku dengar semasa masih di rahim ibu. Entahlah”

Juga bagaimana tulisan Dahlan demikian ciamik dalam meraih cinta Aisha yang tampak mustahil namun ingin tetap dicapainya. Walaupun Aisha telah memberinya harapan.

“Di jantung rinduku, kamu ada keabadian, yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan” 

Seperti kata Dahlan Iskan di bagian awal buku ini, bagaimana pun, buku ini adalah novel, ada bagian fiksi dari alur cerita yang dirangkai sangat hidup oleh Khrisna Pabichara. Namun, esensi dari pesan kehidupan yang disampaikan dari inspirasi seorang Dahlan Iskan tetap tercapai. Bahwa kemiskinan, bukan halangan, bukan momok, tapi sebagai cambuk agar tidak menyerah pada kemiskinan. Ketika mimpi sudah tercapai, maka ciptakan mimpi baru, karena hidup adalah mengejar mimpi.

Ah, bukankah memang sejarah telah menasbihkan, bahwa, seringkali kemiskinan melahirkan orang besar. Tentu, dengan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Bagi saya, Khrisna Pabichara telah sukses memberikan makna dan ruh pada novel ini. Tutur bahasanya yang lugas dan indah, menyiratkan kematangannya sebagai seorang penulis. Maka tidaklah salah, kalau Ahmad Fuadi (5 Menara) mengkategorikan novel ini seperti candu.

Highly recommended!!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s