Mahasiswi Universitet van Amsterdam

Amsterdam, 28 Oktober 2009

Tidak terasa sudah 2 bulan lebih beberapa hari menjadi mahasiswa kembali setelah kurang lebih 5 tahun berselang. Bagi sebagian orang, waktu memang cepat berlalu. Setiap detaknya adalah pengurangan umur.

“Demi masa, sungguh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran” (Al Asr 1-3). 

Menjadi mahasiswa kali ini sungguh berbeda dengan ketika pertama kali menjadi mahasiswa dulu. Kali ini tidak ada orientasi dengan membawa pita warna warni, kaos kaki yang berwarna sesuai dengan warna bendera almamater, dan topi kertas. Orientasi berlangsung selama 2 hari, menjadi ajang untuk saling mengenal antara teman sekelas yang saling berbeda negara dan pengenalan area kampus. Itu saja sudah cukup. 
 
Namun yang berbeda, bukan pada orientasinya, tapi pada sistem pembelajarannya. Disini, mahasiswa dituntut untuk selalu aktif dalam hal apapun. Aktif mengajukan dan menjawab pertanyaan di kelas, serta menyampaikan pendapat atau pandangannya. Ruangan kelas adalah ruang untuk berdiskusi, bukan hanya menerima pelajaran. Kadangkala, waktu berdiskusi lebih panjang dibandingkan pemberian materi itu sendiri. Maka, setting ruangannya pun dengan bangku dan meja yang diatur melingkar, sehingga satu sama lain bisa saling melihat, termasuk dosen juga duduk di salah satu bangku depan di dalam lingkaran. Sehingga, dengan setting seperti ini dan dengan jumlah mahasiswa yang hanya 15 orang, siapa yang terlihat diam atau tidak aktif akan merasa tidak enak hati dan mendorongnya untuk berpikir keras untuk mengeluarkan pendapat. Awalnya, memang butuh keberanian lumanyan besar, apalagi bagi yang merasa tidak cukup percaya diri dengan kemampuan bahasa inggrisnya. Namun, terapi ini, pada akhirnya, cukup manjur juga untuk mengikis rasa minder dan menumbuhkan kepercayaan diri. yah, the power of “terpaksa”. 
 
Menumbuhkan sikap kritis. Tidak semua yang diberikan oleh dosen adalah suatu kebenaran. Bahkan di dalam teori-teori klasik Antropologi tidak ada sesuatu yang rigid, semuanya bersifat relatif, tergantung konteks dan waktunya. Begitulah, essay pun berkutat dengan pendapat kita tentang suatu teori, setuju ataupun tidak setuju, semua bisa jadi benar jika argumen yang diajukan dan dijabarkan pun benar. Ternyata, jika terbiasa menerima pelajaran sebagai suatu kebenaran, maka hal ini adalah suatu tantangan yang tidak mudah. Bagi yang terbiasa dengan sesuatu yang empiris dan konkrit, maka ketika berhadapan dengan sesuatu yang abstrak dan filosofi adalah suatu hal yang sangat membingungkan dan memusingkan. 
 
Suasana kelas yang santai dan serius. Bukan hal yang aneh, jika selama dosen menerangkan pelajaran, para mahasiswanya, ada yang sedang makan biskuit/buah, minum teh/kopi, kaki diangkat diatas kursi, duduk bersila diatas kursi, duduk di jendela, dan sebagainya. Semuanya tidak menjadi masalah, selama masih mendengarkan dan aktif di dalam diskusi selama pelajaran. Aturannya hanya satu, tidak boleh mengobrol. 
 
Fasilitas canggih dan lengkap. Semua fasilitas yang diperlukan sebagaimana biasanya, tentunya ada disini, whiteboard, LCD, komputer. Tidak pernah terlihat dosen membopong laptopnya untuk presentasi, hanya dengan membawa USB saja, dan tidak perlu khawatir terkena virus jika menggunakan komputer kelas. Komputer pun sudah terkoneksi dengan internet, sehingga kapanpun dosen ataupun mahasiswa ingin mempresentasikan link dengan internet, sangat tidak masalah, video bisa dilihat dengan suara jernih dan tidak putus-putus. Selain itu, di jam istirahat, di dalam kelas juga disediakan komputer yang bisa dipakai untuk internet, lengkap dengan printernya jika ingin memprint artikel. Ini hanya fasilitas di dalam kelas, fasilitas perpustakaan dan lab.komputer yang disediakan oleh universitas, jauh lebih canggih dan lengkap. 
 
Pada hakekatnya, menjadi mahasiswa disini adalah kebebasan ruang untuk berpikir dan memperdalam ilmu seluasnya, sehingga memiliki pemahaman yang matang dan benar. Sisanya, biarkan fakultas dan universitas yang melengkapi segala fasilitas yang diperlukan. Mungkin, sisa waktu 10 bulan mendatang, akan terasa sangat cepat bagi saya yang baru menjadi mahasiswa di Universiteit van Amsterdam.
Gambar diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s