Anak Sekecil itu Berkelahi dengan Waktu

” Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu ” ya..ini adalah sekelumit petikan lagu Iwan Fals.

“Lagu lama kaset baru” kata orang.
Sudah menjadi hal yang sangat lumrah rasanya ketika kita melihat anak-anak kecil yang belum genap 8 tahun usia sudah mencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya (mungkin barangkali keluarga ketemu gede).
Ada yang mengemis, entah itu di lampu merah, kereta, angkot, bis, terminal, pasar, dan emperan toko-toko.
Ada yang berjualan, ada rokok, ada ulekan (di lampu merah bandung, Biasanya), ada permen, semir, korek api, dan sebagainya.
Ada yang menjadi buruh dengan upah sangat murah.
Ada yang usaha topeng monyet. menabuh genderang rusak, menjadi instruktur bagi sang monyet.
Ada yang menjadi tukang semir. Ini sih biasanya ada di sekitar terminal.
Dan lain sebagainya. Sangat banyak. Sangat bervariasi. Sangat Murah.

Alkisah, suatu hari ketika sedang duduk dengan manisnya di bangku kereta jurusan Jakarta-Bogor. Tidak banyak penumpang saat itu, tapi ya tidak bisa dikatakan sepi juga. Tiba-tiba, muncul dari pintu (pembatas gerbong kereta) seorang anak kecil, kurus, kumal, dengan wajah yang letih, sedang menyeret sebuah gerobak kecil (tempat menyimpan mainan dan “kantornya” monyet) yang besar setengah dari badan anak tersebut. Tangannya sangat ringkih, tapi melihatnya mampu dan kuat membawa gerobak sebesar itu, yah sepertinya tangannya sudah kuat dan terlatih. Tak lama kemudian, menyusul teman kecilnya yang lain sedang membawa alat musik untuk mengiringi monyet menunjukkan atraksinya. Sama kecilnya, sama ringkihnya dan sama letihnya. Lalu,pertujukan pun dimulai. Di satu sisi, sangat menghibur setelah seharian penat dengan kerjaan yang tiada kunjung selesai. Namun disisi yang lain, rasanya kok seperti gembira diatas penderitaan orang lain, ada rasa getir disana. Mungkin rasa ini tidak akan ada, jika yang membawakan atraksi adalah yang seorang dewasa. Anak sekecil itu, harus bekerja seharian demi menyambung nyawa untuk hari esok.

Kejadian itu mengingatkan saya pada sebuah liputan berita, berita tentang kehidupan anak-anak yang bekerja sebagai “topeng monyet”. Mereka mulai bekerja pukul 9 pagi dan selesai pukul 8 malam. Seharian bekerja, hanya mendapatkan keuntungan bersih Rp. 15.000, itupun harus dibagi untuk ber-4. Jadi, setiap anak hanya mendapatkan Rp. 3.750. Wow. Fantastis tragisnya.

Masih lekat dalam ingatan kita, kisah tentang si Robot Gedek. Ya, dialah orang yang mensodomi puluhan anak, yang kini telah menjadi almarhum setelah terkena serangan jantung di penjara. Anak-anak yang menjadi korbannya, kebanyakan adalah anak-anak jalanan. Anak-anak yang terpaksa bekerja di pagi harinya, dan tidur di kolong-kolong jembatan. Anak-anak yang nasibnya pun kurang lebih sama dengan anak-anak “Topeng Monyet”.

Lalu pertanyaannya, dimanakah perlindungan negara terhadap jutaan anak-anak seperti ini ?. Padahal, di UUD 45 pasal 34, masih berbunyi “orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Pemeliharaan yang seperti apa ya. Pemeliharaan untuk terus berada dalam situasi penuh ancaman, ketidakamanan, kemiskinan, kekerasan, dan bahkan kesadisan orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.

Anak-anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Pekelahian yang tiada berujung. Perkelahian tanpa pemenang. Perkelahian tanpa perdamaian.

Wa’allahu a’lam.

Catatan 27 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s