Langit pun tahu…

Langit pun tahu betapa saya sangat membenci kemacetan. Sumpah serapah, kata-kata penuh amarah dan kekesalan kerap kali menghiasi setiap kali pembicaraan tentang kemacetan yang semakin amburadul, disini, di Jakarta. Macet merenggut makna kekeluargaan, membuat anak menjadi kurang kasih sayang orang tua, menciptakan sebuah ruang batin yang sakit dan semoga saja, keimanan masih berada di dalam singgasananya dalam bentuk dan perbuatan yang sempurna. yah, walau ragu, bukankah kata adalah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s