Secarik Indahnya Ukhwah di Negeri van Oranje

Pada medio Juli tahun 2006, Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi Belanda yang terkenal dengan Kincir anginnya itu untuk pertama kalinya. Ada secarik kenangan ukhwah yang sayang untuk tidak didokumentasikan. Kenagan yang sangat melekat di hati dan memori. Bahkan jika mengenangnya membuat hati ini selalu bergetar. Hanya satu kata “Subhanallah….Allahu Akbar”

Ini adalah kali pertama bertandang di negara yang memiliki warna kebangsaan orange itu. Jadi tak heran jika harus banyak bertanya ini itu ke beberapa orang untuk menemukan hotel yang telah kami pesan lewat internet. Tak disangka ternyata hotel itu berada di pinggiran kota Amsterdam. Padahal ketika melihat iklannya di internet, letaknya tidak jauh dari Central Station (Stasiun kereta yang cukup besar di Amsterdam, dan berada di tengah kota). Dalam proses pencarian hotel itulah, manisnya ukhwah dalam arti yang sebenarnya  sangat  indah dirasa.
Peristiwa pertama, saat bingungnya mencari bis  di terminal (kebayang kan banyak kendaraan umum dengan berbagai jenis). Namun, tiba-tiba seorang bapak mengucapkan “Assalammualaikum”, sontak dengan antusias kami menjawab salamnya (wow, cukup surprise juga saat itu). Lalu segera kami tanyakan mengenai bis apa yang harus kami naiki dan dimana kami harus menunggu bis tersebut. Dengan cekatan dan sangat ramahnya , si bapak tersebut bertanya pada temannya, dan sekaligus membuka denah untuk mencari letak hotel tersebut. Disertai dengan senyuman ramah, bapak tersebut memberitahu kami nomor bisnya dan dimana kami harus menunggu bis tersebut. Dari caranya menolong, sungguh pasti betapa pertolongan yang ia berikan bukan hanya pertolongan yang sekedarnya tapi benar-benar ingin menolong. (Coba bandingkan dengan orang-orang Jakarta jika ditanya tentang alamat jalan).🙂
Peristiwa kedua, namun ternyata, kami salah hotel, jadi ada 2 hotel yang memiliki nama yang benar2 mirip, jika tidak dilihat dengan seksama maka kita akan mengira hotel tersebut sama saja. Akhirnya, kami pun menaiki bis kembali dan turun di tempat lain, ya, daerahnya sepi dan jauh dari kota Amsterdam yang padat. di tempat kami turun, sama sekali tidak ada hotel sejauh mata memandang, wah…., akhirnya kami pun bertanya kembali kepada seorang bapak yang sedang berjalan di pinggir taman. Sungguh sangat diluar perkiraan dengan apa yang Bapak tersebut katakan:  “Jika hotelnya dekat, saya akan mengantarkan kalian, namun jika hotelnya jauh, maka itu mobil saya, saya akan mengantarkan kalian” . Ya Allah, siapa kami, sehingga bapak tersebut begitu baiknya pada kami yang baru kenal semenit yang lalu.  Tepat setelah itu, dia menelpon hotel dengan menggunakan ponselnya dan berbicara bahasa belanda. Ternyata hotelnya dekat, dan sesuai dengan janjinya dia mengantarkan kami dan menunjukkan jalan yang harus kami lalui, ketika sudah dekat, bapak itu pun kembali berkata ” itu jalannya, nanti setelah jembatan itu belok kanan, saya akan mengawasi kalian dari sini, Assalammualaikum”. MasyaAllah, saya kehilangan kata-kata dan perasaan haru tiada tara menghinggapi hati ketika kami berjalan meninggalkannya setelah sebelumnya mengucapkan “Terima Kasih”.
  Peristiwa ketiga, setelah kami berbelok dan menyusuri pinggiran sungai, tak jua kami temukan bangunan hotel, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam (karena musim panas, pukul 10 malam masih seperti maghrib). suasana sepi, tidak seorang pun yang berada di luar, sampai akhirnya kami temukan seorang bapak yang sedang membakar ayam di teras rumahnya yang berada di pinggiran sungai. kami pun mendatanginya untuk bertanya, Sekali lagi, sungguh di luar dugaan, bapak tersebut dengan ramah mempersilahkan kami duduk dan menawarkan ayam bakarnya untuk makan bersama-sama. Setelah itu, dia pun menanyakan alamat hotel dan nomor telponnya, seperti bapak sebelumnya, dia pun menghubungi hotel dan menanyakan letaknya. selesai menutup telponnya, Bapak itu berkata ” Oh…hotel itu dekat sini, saya tahu jalannya, nanti akan saya antarkan kesana, namun gimana jika kita makan dulu, kebetulan saya lapar sekali, mau minum apa ?”. Tutur kata dan sikapnya yang santun, menyimpulkan bahwa bapak tersebut benar-benar ingin menolong dan perasaan kami pun aman. Enak juga rasanya, duduk di pinggir sungai yang bersih sambil makan ayam bakar (kebetulan saat itu, seharian kami belum makan makanan berat, jadi ya lapar juga, selain itu juga, seharian belum ketemu makanan yang kami rasa “halal”). Perbincangan antara kami dengannya pun mengalir begitu saja, seolah-olah kita adalah teman lama. Benar saja, setelah selesai makan dan kami pun kenyang, bapak itu pun bersiap untuk mengantarkan kami, tidak hanya di depan hotel, namun sampai di depan meja resepsionis, setelah merasa kami sudah tidak punya masalah, barulah bapak tersebut berpamitan pulang.
Subhanallah, baru terasa indahnya kekuatan ukhwah sesama muslim, tiada kata yang bisa mengambarkan semua itu. Ukhwah di dalam Islam, tidak mengenal perbedaan suku, ras, dan  warna kulit. Bahkan tidak ada terbersit sedikit pun dalam hati bahwa pertolongan yang mereka berikan meminta balasan. Hanya ada Keikhlasan dan jalinan persaudaraan seiman disana.
Sejak saat itu, Kebanggaan dan Kebahagiaan sebagai seorang muslimah semakin bertambah-tambah. Menunjukkan jati diri dengan jilbab bukanlah sesuatu yang harus kita takuti ketika berada di negara Eropa. Justru dengan begitu, akan tampak jelas siapa kita, sehingga saudara kita disana pun tak ragu menyapa. Cara mereka menyapa dan bertindak terhadap kita, bukan seperti kepada teman melainkan lebih kepada saudara.
Teman, adakah ukhwah seperti itu sudah kita temukan di negeri dengan jumlah muslim terbanyak disini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s