Surga Narkoba Di Telapak Penjara


Judul ini dikutip dari temanya Metro Realitas, beberapa waktu lalu.
Cukup terhenyak ketika mengikuti ulasan penanyangan mengenai kasus dokter penjara yang dikeroyok oleh narapidana di salah satu Rutan di Jogyakarta. Sang Dokter tidak hanya harus menahan sakit di tubuhnya karena dikeroyok, namun juga sakit di batinnya. Wanna know, why ?
Peristiwa pengeroyokan itu pasti jauh dari bayang-bayang sang dokter ketika melakukan pemeriksaan urin hari itu. Kegiatan itu dilakukan secara mendadak (menurut keterangan seorang tahanan) dilatarbelakangi oleh adanya beberapa tahanan yang tidak juga kunjung sembuh dari penyakit yang diderita (belum lagi penyakitnya, terlihat tidak parah sebenarnya). Merasa ada yang aneh, akhirnya sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap kesehatan para narapidana, akhirnya dilakukan tes urin, untuk mengetahui sebab penyakit yang sebenarnya. Benar saja, dugaan sang dokter, dari 12 sampel urin, 10-nya positif mengandung narkoba, bahkan ada diantaranya yang positif HIV. itupun belum semuanya narapidana yang diambil tes urinnya. Hanya beberapa saja, karena sudah keburu dikeroyok. Sebagai informasi, ketika peristiwa pengeroyokan itu terjadi, tidak ada satu pun sipir penjara yang menolong, padahal ada sipir yang bertugas di dekat tempat kejadian.
Cerita selanjutnya, jangan dibayangkan, bahwa para narapidana yang mengeroyok akan diberikan sanksi, justru sebaliknya, sang dokter akhirnya di mutasi ke dinas kesehatan setempat dan bertugas sebagai dokter untuk para pegawai. Alasannya, bahwa sang dokter telah menyalahi prosedur yang ada yaitu jika ada pemeriksaan harus ada izin dan meminta izin dari kepala lapas.
Lalu, gimana dengan bukti sampel yang ada ?, bukti sampel itu kini hanya “nangkring dengan cantiknya” di tempat praktek dokter yang berada di dekat Rutan. Tidak ada tindak lanjut. Menjadi terminal terakhir bagi gelas-gelas kaca yang berisi urin itu.
Apakah sebelumnya sang dokter tidak menindaklanjuti ? , sang dokter yang masih terheran-heran mengetahui dirinya dimutasi, lebih heran lagi ketika dirinya mengajukan masalah ini ke pemda setempat, prosedur dipersulit, dan tidak ada tanda-tanda akan ditindak lanjuti, ujar sang dokter ” okehlah, saya salah prosedur dan dimutasi, tapi gimana dengan bukti urin yang ada, bahwa ini akan terjadi penyebaran HIV jika tidak ditangani ? “. ya…pertanyaan yang sampai sekarang masih belum terjawab.
Potret tentang hal ini, memang bukan hal yang baru lagi. Ini adalah potret kecil dari sekian banyak potret tidakberesan hukum dan aturan di negeri kita. Bayangkan, jika terjadi penyebaran HIV di Penjara, dengan jumlah narapidana yang tidak sedikit, dan potensi keluarga yang tertular (jika sang tahanan bebas), akan terjadi siklus penularan yang mengerikan.
Salah seorang mantan narapidana berujar ” satu jarum suntik untuk satu sel bangsal tahanan narkoba, jika jarum tumpul, ya di amplas, sering ada pesta narkoba, dan petugas tahu itu ”
Sudah tidak perlu dijelas lagi, apa arti dari kutipan diatas, yang pasti, fenomena ini menjadi BOM WAKTU untuk penyebaran HIV dan kita tinggal menunggu saja kapan meledaknya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s