Waktu Kereta

waktu-tempuh-kereta-bandara-soetta-manggarai-40-menit-fha

” Some day, after we have mastered the winds and the waves, the tides and gravity, we will harness the energies of love. And, for the second time in the history of the world, man will have discovered fire”  unknown

Satu sore kemarin di dalam kereta yang sedang melaju, sebersit pikiran menyapa “Alhamdulillah saya naik kereta coba kalau saya naik mobil barangkali saya tidak pernah punya waktu untuk membaca buku dan menikmati waktu melihat pemandangan perputaran kehidupan di dalam kereta dan di luar kereta” Jendela kereta adalah bagian paling favorit di dalam kereta. Kereta yang melaju dari Jakarta ke Depok dan sebaliknya ini kini sangat nyaman. Diiringi desiran pendingin udara yang kadangkala ditambah dengan kipas angin membuat saya menikmati setiap waktu di dalam kereta. Waktu di kereta adalah waktu “me time” bagi saya yang kini menjadi seorang ibu. Maklum, ketika di rumah saya sudah sepenuhnya “occupied” oleh anak dan suami. Ketika di kantor, maka saya sepenuhnya “occupied” oleh pekerjaan, kuliah, mahasiswa dan ragamnya kegiatan kampus. Maka, “waktu kereta” adalah momen yang saya tunggu-tunggu setiap hari-nya. Walau hanya 20 menit.

Seingat saya, beberapa bulan terakhir, waktu di kereta banyak sekali saya habiskan untuk melihat facebook, whats app dan email. Paling banyak facebook. Entah kenapa, kok seperti sudah menjadi kebiasaan. Padahal saya bisa dibilang jarang mengupdate status. Yah, saya termasuk kelompok yang “silent watcher”. Lambat laun saya merasa harus mulai meninggalkan kebiasaan tersebut. Dulu saya suka sekali membaca buku di kereta. Di kereta adalah waktu yang paling pas untuk membaca buku. Setiap hari selama 20 menit saya membaca buku. Nyaman sekali. Apalagi buku yang saya baca kebanyakan adalah buku semi non fiksi. Maka biasanya saya larut dalam alur cerita  dan kata-kata di dalam buku. Seringkali kali saya tersenyum sendiri ketika membaca buku atau bahkan saya membaca kutipan buku dengan secara lisan  dengan maksud agar menempel pada labirin memori atau saya benar-benar kagum dengan untaian kata dan makna yang terkandung di bagian buku tersebut. Ah.. saya benar – benar menikmati membaca buku di dalam kereta.

Lebih daripada itu, kereta rupanya menjadi saksi pada sebagian besar perjalanan hidup saya. Tak terasa kini hampir 15 tahun berlalu. Kereta menjadi saksi perjalanan hidup dari menjadi seorang murid bermorfosis menjadi guru. Kereta juga rupanya yang menjadi saksi pertemuan antara saya dengan jodoh, yang bahkan bermula pada waktu awal saya menjadi penumpang kereta. Rupanya ada sosok yang berkelindan melihat dan menyakini kelak saya akan menjadi belahan bagi jiwanya setelah 13 tahun kemudian. Kereta ternyata menyimpan banyak kisah tentang saya.

Sebagaimana kereta yang melaju begitupula dengan waktu. Semua berubah. Semua kini tidak sama lagi. Hari ini dan esok. Rupanya takdirnya masih menetapkan kereta terus menjadi saksi pada metaforfosis kehidupan saya. Saya pun juga menjadi saksi pada metaforfosis kereta yang semakin hari semakin canggih. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s